Menikah, menikah rasanya menjadi target hidup semua orang, well, nggak semua tapi melihat kecenderungan pandangan dan kebudayaan di Indonesia, menurut gw, pernikahan lebih menjadi sebuah kewajiban. Kita juga gak lepas dari pandangan orang, baik keluarga besar, teman – teman, atau sekedar rasa malu jika menginjak usia cukup, dan belum menikah.
Masalahnya adalah, ya, gw juga ga bisa terlalu banyak berpendapat karena gw gak punya bukti kongkrit tentang ini, tapi rasanya pernikahan sekarang banyak dilakukan untuk keluarga atau alasan lain selain ”MAU”, karena tuntutan keluarga tuh biasanya jadi pemicu utama, kenalan gw menikah gara – gara mamanya mau gendong cucu sebelum si mama menjadi tua dan ga bisa menikmati menjaga cucu, ada juga temen gw yang menikah karena gak tahan terus–terusan dicibir orang karena usia. Dan akhirnya sekarang cerai, dan orang lebih bisa menerima duda daripada pria lajang di usia 30-an. Aneh.
Dalam waktu dekat, di bulan November, tiga orang yang gw kenal akan menikah. Well, yang satu udah pacaran lebih dari 10 tahun, yang dua lagi, gw kurang tau berapa lama pacarannya.
Tentang yang 10 tahun pacaran, gw kurang mengerti kisahnya karena nggak ngikutin, nah gw pengen berbagi cerita tentang yang lainnya.
Kisah pertama tentang Vira yang akan menikah dengan orang yang punya masa depan yang tergambar dengan jelas dengan warna-warna yang meyakinkan, aman, dan menjanjikan, dan adalah seorang yang rasanya memiliki garansi sebagai suami ideal. Jadi walaupun dia menikah dengan orang yang dia (mungkin) gak yakin dia cintai, Vira yakin dengan masa depan kehidupan pernikahannya, sebuah pemikiran panjang tentang kehidupan nantinya, perkara kehidupan anak dan lainnya.
Pernikahan untuk Vira menurut gw menjadi sebuah rancangan kehidupan dimana hal ini merupakan bukan romansa kehidupan, tapi benar-benar menjadi sebuah lembaga kecil yang nantinya akan mengurusi banyak hal, memikirkan keuangan perusahaan, sumber daya manusia, pendapatan dan lainnya.
Sementara di cerita lain, teman gw yang bernama Sunni, menikah dengan cinta dalam hidupnya, orang yang dia pilih dengan hati dan keinginan, seorang pangeran tampan dengan segala hal yang memenuhi kriteria yang ideal menurut Sunni. Sunni tampak begitu bahagia, membicarakan pernikahannya, gugup dengan pernikahannya, namun tak ada sedikit pun kekhawatiran tentang kehidupan berumah-tangga yang akan ia jalani nantinya. Yang sangat dikhawatirkan adalah, bagaimana ia akan terlihat saat resepsi nanti. Hihi.
Beranjak dari dua kasus diatas, menurut gw akhirnya begitu banyak jenis pernikahan, atau begitu banyak motif dibalik pernikahan, dua cerita diatas aja menurut gw udah kontras untuk menjelaskan kisah ini.
Akhirnya, dengan berbekal rasa penasaran gw, gw bertanya sama beberapa orang, dan jawabannya begitu beragam, aneh – aneh sampai gw takjub. Walau ternyata jawaban laki – laki dan perempuan masing masing memiliki persamaan yang lucu.
1. Buat gw menikah adalah sebuah cita–cita, selain merupakan kewajiban agama, menikah menurut gw adalah saat dimana lo menutup sebuah buku dan memulai sebuah buku baru dan memulai semuanya, dengan seorang wanita yang lo cintai, lo agungkan dan menjadi satu-satunya perempuan yang cantik yang musti lo lihat – Raihan.
2. Pernikahan menurut gw adalah komitmen untuk hidup bersama dengan orang yang menyayangi dan menerima gw apa adanya, seorang lelaki yang bisa nyambung dan gw sreg sama dia. – Grace
3. Nikah itu komitmen, janji sehidup semati antara pria dan wanita, kalo secara agama, itu adalah sebuah karya penciptaan, dan buat gw menikah artinya keadaan dimana gw udah mapan dan siap untuk membagi seluruh hidup gw buat satu orang yang gw sayang dalam sakit, sehat, sanang atau sedih sampai maut yang misahin – Novan
4. Menurut gw, nikah itu adalah kebutuhan rohani dan jasmani, dan buat gw nikah itu berarti hidup bersama dengan orang yang bisa bikin gw nyaman dan bisa dipercaya. Ga ada yang ideal memang, karena ideal itu cuman refleksi dari pandangan umum masyarakat – Sarah
5. Pada dasarnya, saya ingin menikah SEKALI seumur hidup untuk lebih BAHAGIA lahir batin dan punya ANAK secara legal. Tapi tentu saja tidak sesimpel itu untuk menuju kesana. Pernikahan itu KOMITMEN dan TANGGUNG JAWAB dua belah pihak yg pastinya saling mencintai secara matang dan dewasa. Karena menikah bukan cuma untuk hubungan seksual (walaupun itu penting) melainkan setelah menikah kita akan punya tanggung jawab bukan hanya pd diri sendiri tapi juga pada Tuhan, anak, keluarga, mertua, karier, lingkungan, dsb. Makanya harus siap (matang dan dewasa), belajar dan belajar sampai mati. Pasangan hidup (suami) saya adalah PARTNER kehidupan hingga kami meninggal. (Partner! Bukan majikan apalagi jongos). Sama2 saling mencintai secara dewasa, mendukung, membangun dan melengkapi dengan tujuan bahagia lahir batin. We grow and feel Blessings all the time together.. owh…lovely (amin). Tadinya kriteria suami saya cuma 2 : HINDU and Someone that can make myself say to him “I REALLY REALLY PROUD TO BE YOURS”. Tapi setelah saya berpacaran serius (untuk pertama kalinya) dengan seorang pria cemerlang yang memenuhi kriteria diatas, punya harapan dan persiapan ke jenjang pernikahan (krn apa lagi coba yg dicari), saya sudah menerima bahkan tidak bs melihat kekurangannya, tapi ternyata kami PUTUS juga. Kejadian itu membuat saya belajar bahwa 2 kriteria itu saja tidak cukup, sehingga saya sempurnakan menjadi : Have the same religion with me or we can TOLERANCE each other, Each of us feel COMFORTABLE and Someone that can make myself say to him “I REALLY REALLY PROUD TO BE YOURS”. That’s ideal… - Putu.
Kira-kira yang seperti itu jawaban orang-orang Jakarta yang gw tanyain tentang pandangan mereka mengenai pernikahan. Nah, sekarang pernikahan sendiri itu punya persepsi yang begitu beragam walau rasanya menurut gw, bagi perempuan, menikah adalah sebuah keadaan dimana mereka telah menentukan kapten untuk kapal mereka dalam mengarungi lautan buas kehidupan, dimana kapten ini adalah kapten pilihan dengan ribuan pertimbangan, jutaan pertanyaan, dan ratusan ribu pengulangan pertanyaan dalam meyakinkan diri untuk memilih kapten.
Sedangkan laki – laki memandang pernikahan sebagai sebuah medan gelap tanpa peta dimana yang mereka miliki hanyalah kepintaran, rasa nekat dan kekuatan dari seorang perempuan yang mereka pilih, bagi seorang lelaki, perempuan adalah pelengkap kehidupan dan penyempurna kekuatan, sedangkan perempuan menempatkan laki-laki sebagai kapten, seorang pengambil keputusan mutlak dan merupakan landasan penyempurna ribuan argumen dan pertimbangan yang dimiliki perempuan.
Gw yakin akan ada banyak lagi pandangan-pandangan yang berbeda mengenai hal menikah. Namun yang pasti, apapun maksud dan motif dibalik sebuah pengambilan keputusan untuk menikah, hal itu merupakan sebuah keputusan dengan berbagai pemikiran, perhitungan risiko dan konsekuensi dari sebuah komitmen. Gw ga bisa bilang cinta sebagai hal mutlak karena, sejauh referensi gw kecuali temen gw Sunni, pernikahan terjadi seperti sebuah persekutuan dua lembaga untuk menjadi lembaga yang lebih baik.
Untuk tulisan ini, gw minta maaf untuk materi yang kayaknya kusut dan gw memberikan sistematika penulisan yang berantakan, jujur, gw nggak bisa membuat sesuatu yang rapih mengenai pernikahan yang buat gw begitu complicated, jadi gw menuliskan sesuai dengan yang muncul di kepala dengan spontan.
Untuk tulisan ini, gw berterima kasih begitu berlimpah buat responden yang mau berbagi cerita, dan untuk teman-teman yang rela berjam-jam membahas ini dengan gw. Atas waktu yang begitu menyenangkan dan hangat, gw berterimakasih secara khusus kepada Ryan, Raihan, Wafa dan Reza. Lo semua keren!!!
::rue::
Tidak ada komentar:
Posting Komentar