Kamis, 28 Oktober 2010

cinta, komitmen, pilihan hidup, pernikahan

 Menikah, menikah rasanya menjadi target hidup semua orang, well, nggak semua tapi melihat kecenderungan pandangan dan kebudayaan di Indonesia, menurut gw, pernikahan lebih menjadi sebuah kewajiban. Kita juga gak lepas dari pandangan orang, baik keluarga besar, teman – teman, atau sekedar rasa malu jika menginjak usia cukup, dan belum menikah.

Masalahnya adalah, ya, gw juga ga bisa terlalu banyak berpendapat karena gw gak punya bukti kongkrit tentang ini, tapi rasanya pernikahan sekarang banyak dilakukan untuk keluarga atau alasan lain selain ”MAU”, karena tuntutan keluarga tuh biasanya jadi pemicu utama, kenalan gw menikah gara – gara mamanya mau gendong cucu sebelum si mama menjadi tua dan ga bisa menikmati menjaga cucu, ada juga temen gw yang menikah karena gak tahan terus–terusan dicibir orang karena usia. Dan akhirnya sekarang cerai, dan orang lebih bisa menerima duda daripada pria lajang di usia 30-an. Aneh.

Dalam waktu dekat, di bulan November, tiga orang yang gw kenal akan menikah. Well, yang satu udah pacaran lebih dari 10 tahun, yang dua lagi, gw kurang tau berapa lama pacarannya. 

Tentang yang 10 tahun pacaran, gw kurang mengerti kisahnya karena nggak ngikutin, nah gw pengen berbagi cerita tentang yang lainnya.

Kisah pertama tentang Vira yang akan menikah dengan orang yang punya masa depan yang tergambar dengan jelas dengan warna-warna yang meyakinkan, aman, dan menjanjikan, dan adalah seorang yang rasanya memiliki garansi sebagai suami ideal. Jadi walaupun dia menikah dengan orang yang dia (mungkin) gak yakin dia cintai, Vira yakin dengan masa depan kehidupan pernikahannya, sebuah pemikiran panjang tentang kehidupan nantinya, perkara kehidupan anak dan lainnya. 

Pernikahan untuk Vira menurut gw menjadi sebuah rancangan kehidupan dimana hal ini merupakan bukan romansa kehidupan, tapi benar-benar menjadi sebuah lembaga kecil yang nantinya akan mengurusi banyak hal, memikirkan keuangan perusahaan, sumber daya manusia, pendapatan dan lainnya.

Sementara di cerita lain, teman gw yang bernama Sunni, menikah dengan cinta dalam hidupnya, orang yang dia pilih dengan hati dan keinginan, seorang pangeran tampan dengan segala hal yang memenuhi kriteria yang ideal menurut Sunni. Sunni tampak begitu bahagia, membicarakan pernikahannya, gugup dengan pernikahannya, namun tak ada sedikit pun kekhawatiran tentang kehidupan berumah-tangga yang akan ia jalani nantinya. Yang sangat dikhawatirkan adalah, bagaimana ia akan terlihat saat resepsi nanti. Hihi. 

Beranjak dari dua kasus diatas, menurut gw akhirnya begitu banyak jenis pernikahan, atau begitu banyak motif dibalik pernikahan, dua cerita diatas aja menurut gw udah kontras untuk menjelaskan kisah ini.
Akhirnya, dengan berbekal rasa penasaran gw, gw bertanya sama beberapa orang, dan jawabannya begitu beragam, aneh – aneh sampai gw takjub. Walau ternyata jawaban laki – laki dan perempuan masing masing memiliki persamaan yang lucu.

1. Buat gw menikah adalah sebuah cita–cita, selain merupakan kewajiban agama, menikah menurut gw adalah saat dimana lo menutup sebuah buku dan memulai sebuah buku baru dan memulai semuanya, dengan seorang wanita yang lo cintai, lo agungkan dan menjadi satu-satunya perempuan yang cantik yang musti lo lihat – Raihan.


2. Pernikahan menurut gw adalah komitmen untuk hidup bersama dengan orang yang menyayangi dan menerima gw apa adanya, seorang lelaki yang bisa nyambung dan gw sreg sama dia. – Grace


3. Nikah itu komitmen, janji sehidup semati antara pria dan wanita, kalo secara agama, itu adalah sebuah karya penciptaan, dan buat gw menikah artinya keadaan dimana gw udah mapan dan siap untuk membagi seluruh hidup gw buat satu orang yang gw sayang dalam sakit, sehat, sanang atau sedih sampai maut yang misahin – Novan


4. Menurut gw, nikah itu adalah kebutuhan rohani dan jasmani, dan buat gw nikah itu berarti hidup bersama dengan orang yang bisa bikin gw nyaman dan bisa dipercaya. Ga ada yang ideal memang, karena ideal itu cuman refleksi dari pandangan umum masyarakat – Sarah 


5. Pada dasarnya, saya ingin menikah SEKALI seumur hidup untuk lebih BAHAGIA lahir batin dan punya ANAK secara legal. Tapi tentu saja tidak sesimpel itu untuk menuju kesana. Pernikahan itu KOMITMEN dan TANGGUNG JAWAB dua belah pihak yg pastinya saling mencintai secara matang dan dewasa. Karena menikah bukan cuma untuk hubungan seksual (walaupun itu penting) melainkan setelah menikah kita akan punya tanggung jawab bukan hanya pd diri sendiri tapi juga pada Tuhan, anak, keluarga, mertua, karier, lingkungan, dsb. Makanya harus siap (matang dan dewasa), belajar dan belajar sampai mati. Pasangan hidup (suami) saya adalah PARTNER kehidupan hingga kami meninggal. (Partner! Bukan majikan apalagi jongos). Sama2 saling mencintai secara dewasa, mendukung, membangun dan melengkapi dengan tujuan bahagia lahir batin. We grow and feel Blessings all the time together.. owh…lovely (amin). Tadinya kriteria suami saya cuma 2 : HINDU and Someone that can make myself say to him “I REALLY REALLY PROUD TO BE YOURS”. Tapi setelah saya berpacaran serius (untuk pertama kalinya) dengan seorang pria cemerlang yang memenuhi kriteria diatas, punya harapan dan persiapan ke jenjang pernikahan (krn apa lagi coba yg dicari), saya sudah menerima bahkan tidak bs melihat kekurangannya, tapi ternyata kami PUTUS juga. Kejadian itu membuat saya belajar bahwa 2 kriteria itu saja tidak cukup, sehingga saya sempurnakan menjadi : Have the same religion with me or we can TOLERANCE each other, Each of us feel COMFORTABLE and Someone that can make myself say to him “I REALLY REALLY PROUD TO BE YOURS”. That’s ideal… - Putu.


Kira-kira yang seperti itu jawaban orang-orang Jakarta yang gw tanyain tentang pandangan mereka mengenai pernikahan. Nah, sekarang pernikahan sendiri itu punya persepsi yang begitu beragam walau rasanya menurut gw, bagi perempuan, menikah adalah sebuah keadaan dimana mereka telah menentukan kapten untuk kapal mereka dalam mengarungi lautan buas kehidupan, dimana kapten ini adalah kapten pilihan dengan ribuan pertimbangan, jutaan pertanyaan, dan ratusan ribu pengulangan pertanyaan dalam meyakinkan diri untuk memilih kapten.

Sedangkan laki – laki memandang pernikahan sebagai sebuah medan gelap tanpa peta dimana yang mereka miliki hanyalah kepintaran, rasa nekat dan kekuatan dari seorang perempuan yang mereka pilih, bagi seorang lelaki, perempuan adalah pelengkap kehidupan dan penyempurna kekuatan, sedangkan perempuan menempatkan laki-laki sebagai kapten, seorang pengambil keputusan mutlak dan merupakan landasan penyempurna ribuan argumen dan pertimbangan yang dimiliki perempuan. 

Gw yakin akan ada banyak lagi pandangan-pandangan yang berbeda mengenai hal menikah. Namun yang pasti, apapun maksud dan motif dibalik sebuah pengambilan keputusan untuk menikah, hal itu merupakan sebuah keputusan dengan berbagai pemikiran, perhitungan risiko dan konsekuensi dari sebuah komitmen. Gw ga bisa bilang cinta sebagai hal mutlak karena, sejauh referensi gw kecuali temen gw Sunni, pernikahan terjadi seperti sebuah persekutuan dua lembaga untuk menjadi lembaga yang lebih baik. 

Untuk tulisan ini, gw minta maaf untuk materi yang kayaknya kusut dan gw memberikan sistematika penulisan yang berantakan, jujur, gw nggak bisa membuat sesuatu yang rapih mengenai pernikahan yang buat gw begitu complicated, jadi gw menuliskan sesuai dengan yang muncul di kepala dengan spontan.

Untuk tulisan ini, gw berterima kasih begitu berlimpah buat responden yang mau berbagi cerita, dan untuk teman-teman yang rela berjam-jam membahas ini dengan gw. Atas waktu yang begitu menyenangkan dan hangat, gw berterimakasih secara khusus kepada Ryan, Raihan, Wafa dan Reza. Lo semua keren!!!

::rue::

Kamis, 21 Oktober 2010

Yang abadi itu ketidak abadian






Gebetan, rasanya ringan banget denger kata itu, dan kayak di FTV-FTV, gebetan dan cara mendapatkan serta maintenence-nya kayaknya gampang, ringan dan penuh lika-liku sederhana yang jenaka. Dan di beberapa sudut kehidupan yang lain di bumi, ternyata gebet-menggebet jadi sebegitunya serius, punya kisah yang begitu rumit, dan terkadang, jadi dalem.
Seorang teman kemarin menginap di tempat gw, cerita panjang lebar tentang ini dan itu, oke, namanya Rendi. Rendi seperti semua orang pada umumnya, pernah jatuh cinta, pernah patah hati. Tapi yang ini, ceritanya nggak main-main.
Ceritanya terjadi waktu Rendi masih SMA. Ceritanya dia naksir 2 orang di waktu yang bersamaan, yang satunya cewek yang (menurut cerita Rendi) sempurna. Cantik, sopan, ramah, halus, pintar dan lain-lainnya. Yang satunya lagi, cowok, kakak kelas yang katanya nggak begitu ganteng, tapi menawan (begitu menurut Rendi).
Jadi hari-hari Rendi diisi sebagai penggemar rahasia dua orang ini, katanya setiap hari rasanya begitu menyenangkan. Dan disaat dia cerita, gw mikir mungkin juga, diluar urusan kelamin, jatuh cinta ya jatuh cinta, dan jatuh cinta sama satu orang aja nyenengin, apalagi dua, diwaktu yang sama. Dan menjadi penggemar rahasia itu menyenangkan, rasanya deg-degan tiap hari. Sedih, tapi rasanya enak juga.
Di tengah-tengah wacana, beberapa kali gw liat Rendi tersenyum miris, dan senyum miris dia bikin gw mikir, berarti kisah cinta ini salah satu atau dua-duanya nggak berhasil, jadinya gw memutuskan buat nanya.
Gw : ”So, akhirnya gimana? Lo jadian sama salah satunya? Atau malah akhirnya cobain dua-duanya?”
Rendi : ”Ah, enggak, boro-boro jadian, sempet bilang juga nggak, apalagi ke yang cewek.”
Gw : ”Loh kenapa? Gak sempet ketemu lagi?”
Rendi : ”Iya, dia meninggal leukimia.”
Eh? Meninggal? Belakangan rendi emang cerita kalau di akhir akhir kelas 3 si cewek udah sering nggak muncul dan belakangan kabarnya dia meninggal leukimia. Gw sih terperangah dengernya. Rasanya kayak.....kayak apa coba? Gw nyaris ga punya kata kata yang paling baik untuk ngungkapin apa perasaan gw denger cerita kalo gebetannya si Rendi meninggal, maksud gw, meninggal aja udah bukan urusan yang gampang, ini tambah lagi ada beban perasaan, ya kan?
Dan mungkin rasa penyesalannya yang bikin nggak bisa lupa, gw sih sempet nanya ke beberapa orang tentang masalah ini, dan semua kayaknya punya pandangan yang sama yaitu rasa menyesal nggak bilang, ada yang rada ekstrim pengen bunuh diri jadinya, beberapa bilang jadi sedikit menyalahkan Tuhan . Tapi beberapa jawaban manis muncul kayak berikut (gw kutip sesuai jawaban mereka) :
  1. Rasanya seperti penyesalan kenapa gw gak bilang. Dan waktu gak bisa diputar. Gw sedih bangt pastinya. Tapi gw tetep pengen dia tau, jadi gw dateng ke makamnya banget ngungkapin.” – Amel
  2. Naruh surat di kuburannya, berharap dia tau akhirnya.” – Griksa
  3. Gw sih pasti nyesel bgt, secara jadi secret admire aja udah tersiksa, apalagi ending-nya jadi begini.” – Andra
  4. Kalo buat gw, sedih sih. Tapi cinta kan gak selalu harus saling memiliki.” – Tyo
  5. Bunuh diri! Soalnya gw kalo dah sayang, sayang banget.” – Catherine
Dan balik lagi ke cerita Rendi yang belum selesai, untuk memotong aura sedih, gw nanya tentang si cowok yang dulu ditaksir Rendi, dan ceritanya nggak kalah bikin gw tertegun.
Nah, mungkin karena nggak mau menyesal untuk yang kedua kalinya atau karena gak mau kehilangan kesempatan, atau karena rasa sukanya sekarang terpusat pada si kakak kelas ini, lulus SMA Rendi memutuskan buat nyusul si kakak kelas ini ke Australia. Ironis? Menyedihkan? Pemberani? Pejuang? Entahlah, sementara Rendi melanjutkan cerita, gw bertanya tanya, tapi yang gw yakin pasti, orang ini luar biasa. Entahlah. Tapi orang kayak gini sih 1.000.000 banding 1.
Akhirnya Rendi di Australia, kuliah. Mengejar ilmu dan mengejar cinta. Gw sendiri nggak gitu inget detail cerita ini sampai pada akhirnya si kakak kelas ngajak si Rendi ketemuan buat makan siang atau semacamnya, atau Rendi yang ajak, entahlah. Pada kesimpulannya, mereka ketemuan.
Rendi gugup dan deg-degan memikirkan segala hal, dan mengharapkan semesta mendukung kesempurnaan yang dia persiapkan, dirinya, pakaiannya, cuacanya, restorannya dan semuanya. Dan dengan sial si kakak kelas dateng bawa perempuan. Mendadak sih gw udah curiga ini perempuan pasti pacar atau apa, dan ternyata Rendi nggak. Dia terlalu konsentrasi sama si kakak kelas yang udah bikin dia nggak konsen sekolah dan ke Australia buat ngejar ”kuliah”.
Rendi : ”Iya, dia dateng, gw seneng bgt. Dia bawa temennya, cewek, gw sih gpp toh gw ketemu dia kan, bukan cewek itu.”
Gw : ”Terus, terus?”
Rendi : ”Terus dikenalin deh gw sama cewek itu, katanya ”Hi Rendi, kenalin.. ini tunangan gw.””

Dan Rendi hanya tersenyum miris menatap gw dan mengangkat bahu.

Setelah dia pulang, gw mendapati diri gw berpikir tentang ini dan itu, terutama tentang perasaan gw kalau-kalau gw yang ada di posisi dia. Dan hal positif yang manis banget dateng darr seorang temen. Dia nulis gini ”mukin gw bakal stuck in memories, nulis unsent letter. But his/her image will never fall from grace abadi dan selalu indah.” dan gw rasa itu jadi bener banget gitu kalo gw pikir lagi, well, jadinya mereka-mereka kan nggak ninggalin cacat sama sekali di kehidupan Rendi.
Punya kenangan tak bercacat tentang seseorang dalam hati terkadang bikin cerita hidup jadi lebih manis, karena ada tokoh protagonis yang abadi.


:: rue ::

hai :)


Hi, gw Rue, gw tinggal di Jakarta, hidup seperti warga Jakarta pada umumnya, dan mengalami banyak hal seperti warga Jakarta umunya, intinya, gw umum.

Yang bikin Jakarta jadi ebraneka ragam adalah cerita-cerita dari berbagai sudut yang warna warninya bikin kehidupan jadi nggak membisankan, mulai dari politik, kehidupan rumah tangga, sampai percintaan.

Nah, masalah percintaan, ternyata yang dialamin sama orang – orang di Jakarta ternyata nggak sesederhana yang ditampilin di televisi atau nggak semengerikan itu. Gw inget tentang ftv – ftv yang ceritanya kelewat ringan tanpa konflik atau cinta fitri yang bikin cinta nggak bermaslah jadi masalah ber season - season.

Banyak cerita cinta yang gw denger, beda usia, beda kasus. Dan semuanya menurut gw punya banyak persamaan dan banyak perbedaan di waktu yang bersamaan. Dan gw menulis cerita itu di sini, sekalian uat referensi kalo kalo ada kasus menyedihkan yang mirip kisah, lo jadi lo nggak ngerasa sendiri, dan kalo kisah senengnya yang mirip kisah lo, anggeplah lo bagi bagi keberuntungan. Dan kalo lo gak suka cerita cinta, nggak usah baca, hehehehehe.

Dan gw memalsukan nama tokoh. Jadi yang tau ini cerita tentang dia ya cuman si orang yang bersangkutan. Tapi nama responden kalo gw nanya nanya sih nama asli.



Thanks udah mampir, selamat membaca



:: rue ::