Kamis, 04 November 2010

maaf, meminta maaf, memaafkan

Hi, pertama – tama gw mau kasih warning dulu kalau cerita yang kali ini rada panjang .

~enjoy

Perasaan, disaat semua perasaan positif berbalik menjadi gelap dan menyerang dengan tajam, terkadang rasanya kebencian adalah sikap yang paling pantas untuk memberikan reaksi terhadap serangan perasaan tersebut. Masalahnya adalah, apakah dengan membenci kemudian kepuasan dan kebahagian didapat? Atau akhirnya hanya menjadi topeng dari perasaan yang rapuh dan terluka? Dan mungkinkah memaafkan dengan ikhlas menjadi obat yang baik untuk menyembuhkan luka serangan perasaan? Atau, menyimpan kebencian adalah sebuah jawaban yang mutlak dan penobatan sebagai reaksi yang kuat? atau? atau? atau? atau? atau?

Perempuan kuat ini bernama Trina, kalau melihat dari pembawaannya, Trina merupakan seorang wanita menarik dengan selera humor yang asik. Tapi, ternyata Trina memiliki sebuah cerita yang membuat gw pengen bagi – bagi ceritanya ke semua orang, mungkin bisa membantu kalau ternyata ada orang diluar sana yang sedang berkemelut dengan masalah yang sama.

Trina seorang gadis usia dua puluhan yang menikah dengan pria pilihannya, seorang lelaki baik-baik dari keluarga yang baik. Mereka menikah dengan sederhana, sebuah pernikahan mungil yang hangat dengan orang – orang yang mereka sayangi. Setelah pesta pernikahan selesai, mulailah mereka mempertemukan kapal mereka dengan medan dinamis yang tak terprediksi, kehidupan berumah tangga.

Dengan sebuah doa agar keluarganya terhindar dari semua masalah, Trina yang polos menyerahkan semua hal kepada Tuhan, Sang Maha Pencoba. Di usianya yang begitu belia, dua puluhan, pukulan pertama datang menghantam Trina dengan gagah, suaminya, kapten perahu mereka yang belum sepenuhnya rampun, tertangkap berselingkuh... dengan adik Trina sendiri.

Jujur gw cuma bisa bilang ”maaf” waktu gw mendengar cerita itu, entah reaksi apa yang cocok untuk mewakilkan rasa kaget gw, mendadak gw kayak dihantam bongkahan es, sakit dan dingin.

Trina melanjutkan cerita, dengan goncangan sekuat itu, Trina yang gelap mata dengan segera lari keluar dari rumah dengan hati yang kacau dan rasa malu yang tak terkira, ia berkata bahwa ia bahkan tak sanggup melihat bayangan dirinya. Namun Trina berhasil dicegah dan melalui banyak perdebatan, akhirnya kasus itu termaafkan dan entah badai apa yang terjadi dalam hati, dipermukaan, mereka tampak melupakan kejadian ini.

Selang beberapa tahun, kehidupan Trina menjadi normal kembali, kasus perselingkuhan pertama menguap begitu saja, terbayang namun samar, lalu suaminya selingkuh lagi. Kali ini yang kedua, kali ini di rumah Trina, di istana dimana harusnya ia berpulang, ditempat segala rahasia berada, dan begitulah mudahnya ternoda oleh khilaf.

Kejadian ini terjadi begitu saja, begitu saja terjadi, begitu saja tertangkap, lagi-lagi sang suami bermain dengan bodoh. Ditengah – tengah cerita, Trina memotong narasi dengan sebuah kalimat pendek ”laki – laki, mau culas kok tolol”. Trina kontan marah mendapati suaminya lagi-lagi bermain badai. Namun Trina yang sekarang adalah wanita tangguh yang kuat. Trina yang murka hanya tersenyum sinis pada suaminya lalu kembali keruang tengah, tentunya sang suami mengejar.

Suami Trina mencoba menjelaskan bahwa kejadiannya tidak seperti yang dilihat oleh Trina (ya, alasan seperti ini emang pamungkas, basi, namun selalu digunakan, mendadak saya ingat quote Trina ) dan kejadian itu murni merupakan khilaf belaka. Dengan kontan Trina berbalik menjawab suaminya dengan kata – kata yang mujaraf untuk membunuh orang.

gak usah kasih saya penjelasan, kamu itu sudah makan sampah, jadi mulut kamu bau bangkai”

Dan

untuk orang setua kamu, selingkuh lagi itu bukan khilaf, tapi hobi”

Pertengkaran terjadi begitu sengit, Trina kemudian bilang ke gw kalau suaminya merupakan orang yang menghormati perempuan di beberapa sudut pandang. Jangankan memukul Trina, suaminya bahkan tak pernah membentak atau memaki perempuan. ”Ia memang penyayang wanita, lihat saja kelakuannya”.

Mereka kemudian berbaikan kembali, Trina bahkan tak mengerti mengapa ia mau kembali memaafkan suaminya. Diluar pertimbangan tentang pandangan publik dan reputasi serta perasaan anak, Trina tak mengerti kenapa maaf itu kembali datang, ia berkata mungkin itulah yang disebut keledai, jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali, dan menerimanya dengan terbuka, walau buat gw pribadi, itu sikap patriotis yang membanggakan. Kehidupan keluarga mereka kemudian kembali berjalan, entah dengan ribuan kecurigaan atau justru karena akhirnya sudah tak ada rasa saling perduli.

Kemudian beberapa tahun berselang, kejadian perselingkuhan terjadi lagi. Kali ini rasanya gw bahkan gak bisa napas waktu Trina cerita. Gw cuma bisa megang tangan Trina sambil membelalak terkejut. Oh, damn... ini yang namanya main badai ditengah badai. Gak kira – kira, gak pandang usia dan gak tau malu. Itu mungkin yang ingin disampaikan Trina ke gw diantara ratusan kalimat yang dia lontarkan, yang gw bahkan nggak konsen dengerinnya.

Kali ini Trina suah kehabisan maaf, merasa anak – anaknya sudah cukup dewasa untuk mengerti, ia kontan memberi tahu anak – anaknya disaat ia memergoki lagi suaminya berselingkuh. Dan kali ini, tak ada pintu maaf untuk suaminya. Dengan pasti dan niat kokoh, Trina mengusir suaminya dan lagi – lagi ia memberikan quote hebat yang membunuh

Pergi kamu dari rumah saya! Saya nggak terima sampah dirumah ini, dan saya mesti buang taik di muka saya! Sekarang kamu pergi dan rasakan kesendirianmu di usia tua, kamu akan tua, sakit dan mati sendirian dan bahkan kamu gak akan liat anak – anak kamu datang ke kubur kamu dari neraka sana!”.

Dan rasanya kutukan tersebut sampai pada titik yang paling ditakuti oleh sang suami, ditinggalkan anak – anaknya, dalam hitungan detik setelah Trina mengutuknya, sang suami pingsan dan harus dirawat inap.

Lelaki itu mendapati dirinya tak dikunjungi sama sekali saat di rumah sakit, tak ada satupun keluarga yang datang, tidak istrinya, tidak anak – anaknya, dan tidak kerabatnya. Menurut Trina, suaminya tak akan berani menceritakan kasus ini kepada keluarganya karena alasan yang ”masuk diakal”.

Setelah diperbolehkan pulang, Suami Trina pulang ke rumahnya yang lain, sebuah rumah kosong yang akan dihadiahkan kepada anak bungsu mereka, sebuah bangunan berisikan harapan masa depan yang sekarang hampa. Sebelumnya lelaki ini mencoba pulang ke rumah keluarganya, namun yang didapatinya bukan sambutan simpati, namun tangis putri bungsunya yang mengantarkan kunci menyuruhnya tak perlu kembali.

Tidak diperlukan, gw merasa bahwa sebagai seorang ayah, tak diperlukan merupakan sebuah kegagalan paling besar dalam hidup. Tak ada lagi kata harga diri dalam diri seorang ayah yang mendapati dirinya tidak diperlukan oleh anaknya. Ironis, terjadi dan memilukan.

Setelah bermalam, esok harinya sang suami mencoba untuk kembali mengais maaf, yang tentunya kembali tidak berhasil. Anak sulungnya berpapasan dengannya di depan rumah, tanpa sepatah katapun, menatapnya dengan penuh malu dan marah dan hanya melempar sebuah kata, ”permisi”.

Sang suami histeris, ia menangis di pinggir jalan memohon sedikit maaf dari anaknya, ia sudah tidak memperdulikan rasa hormat anak kepada ayah, baginya sekarang, hanyalah maaf. Tulus ataupun tak tulus, ia ingin dimaafkan.

Gw kembali berpikir, apakah rasanya menjadi seorang ayah yang kehilangan pamornya dimata seorang anak, bagaimana ia mampu meminta maaf, bagaimana ia masih mampu menatap mata anaknya? Gw, disaat ceritanya menjadi seperti ini, mulai merasa bahwa sang suami berada di posisi yang memilukan, sebuah keadaan yang membuat gw ingin meminta Trina untuk memaafkan suaminya.

Namun tidak, dengan tegas dan penuh kesal, Trina memanggil anak sulungnya untuk kembali kerumah, untuk masuk dan membiarkan lelaki tua itu sendirian di jalan. Setelah si sulung masuk, Trina keluar, berjalan dengan anggun menuju suaminya dan kembali berkata.

Kamu sudah bikin malu saya, jangan bikin malu anak saya juga, apa sih tujuan hidup kamu? Membuat semua orang malu? Dan kamu merasa menjadi pemenang dengan membodohi semua orang?”

Kalimat tadi lagi-lagi menjadi palu besar yang menghancurkan suami Trina hingga berkeping-keping, begitu hancurnya hingga ia perlu menghentikan napas sejenak untuk kembali mendapati kesadarannya. Ia hancur, dari cerita Trina, gw bisa rasain, kalau suaminya sekarang lebur, hancur bagai debu, begitu hancur sampai setiap serpihan-serpihannya tak lagi mengingat dimana letak awal mereka.

Kemudian hari-hari pasca pertengkaran menjadi padang pasir dalam kehidupan kedua belah pihak. Sang suami meminta maaf melalui segala cara dengan durasi yang nyaris tak terhenti, memberikan berbagai permohonan maaf yang memilukan. Ia bahkan disalah satu permintaan maafnya mengatakan seperti ini, (gw kutip dari smsnya yang diperlihatkan Trina ke gw)

Anak – anakku, maafkan bapakmu ini, mungkin saya akan segera mati dan saya yakin kalian tak akan merasa kehilangan, namun saya mohon anak – anakku, tolong lihat kubur papa, itupun kalau kalian masih mengangggap saya papa kalian”

Gw bergetar membaca sms itu dan air mata gw turun begitu saja, ini benar - benar sudah diluar perkiraan gw untuk terjadi, ini seperti sebuah kisah yang begitu ekstrim, begitu memilukan dan pahit.

Trina kemudian berkata hidupnya menjadi tak tenang, ia sangat membenci suaminya, namun kebenciannya dan semua perlakuannya tak membuatnya mendapati sebuah rasa puas, rasa menang ataupun lega. Ia malah menjadi uring – uringan dan membenci segala hal, mudah tersinggung dan yang paling membuatnya galau adalah, ia akhirnya melibatkan anak – anaknya dalam masalah ini.

Namun akhirnya anak sulung Trina memberikan sebuah jalan keluar, ia meminta ibunya memaafkan sang ayah. Karena apapun yang terjadi, ia tak tega melihat ayahnya, dan ia pun tak tega melihat sang ibu yang semakin hari semakin terpuruk oleh keadaan.

Kemudian, Trina yang cerdas melakukan konsultasi pada pakar pernikahan dan beberapa psikolog yang semuanya membuat Trina mendapat jawaban bulat untuk memberi maaf pada suaminya, untuk memberikan maaf agar Trina terlepas dari belenggu kebencian yang merusak, dan menghentikan Trina dari kegiatan mengutuk suaminya, hidupnya dan dirinya sendiri.

Trina hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki rasa iba, empati dan kasih, tentunya tiga hal ini membuat Trina bulat kembali memaafkan suaminya. Trina tetap tak memberikan hati kepada sang suami, ia hanya memaafkannya, menenangkan samudra yang terhantam badai dan menjinakkan puting beliung yang memporak porandakan hidupnya.

Hatinya tetap tertutup rapat, ia memafkan suaminya untuk menjadi pemenang, untuk membuktikan pada suaminya, anak – anaknya dan terlebih pada dirinya secara pribadi bahwa ia adalah orang yang mampu menguasai dirinya sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Sekarang Trina menemukan sebuah kehidupan yang lebih bijak, dimana ia merasa berhasil menguasai alam semesta setelah berhasil menguasai dirinya sendiri. Ia memiliki tidur yang nyenyak, anak – anak yang membanggakan, suami yang penurut, serta rumah tangga yang terselamatkan. Dan dengan tersenyum bangga Trina hanya berkata bahwa yang membuat semuanya selesai adalah keberanian untuk memaafkan.

Gw pulang dengan hati yang plong, gw belum pernah sesegar ini setelah mendengar cerita tentang prahara kehidupan rumah tangga. Dan dikepala gw terbesit pertanyaan-pertanyaan seputar kekuatan memaafkan dan menanyakannya pada beberapa orang,

Teman gw Dhea, merasa bahwa meminta maaf merupakan hal yang lebih sulit, mengalahkan gengsi untuk meminta maaf membutuhkan keberanian yang tidak main-main, merupakan sebuah kemenangan bila mampu meminta maaf dengan tulus dan lawan semua pembrontakan hati kecil yang terkadang membuat pembenaran-pembenaran irasional.

Aldo merasa memaafkan merupakan sebuah kemenangan, karena dengan memaafkan orang lain, artinya seorang individu berhasil menempatkan diri mereka pada sebuah peringkat yang lebih tinggi, yaitu berhasil menjadi orang yang lebih bijak dan lebih bermartabat, dan memaafkan bagi Aldo bukan berarti harus melalui adanya permohonan maaf, memaafkan adalah sebuah sikap dimana seseorang dengan sadar membuang dendam atas sebuah keadaan yang buruk.

Seorang yang gw temui secara acak di sebuah restoran bernama Brian berkata bahwa meminta maaf adalah hal yang terpenting dalam menyelesaikan sebuah perkara, karena hidup dalam penyesalan dan rasa janggal dari maaf yang belum tersampaikan membuat tidur menjadi tak tenang.

Segala hal menjadi begitu eratic, tak terfokus, berantakan, apalagi hal tersebut menyangkut seorang yang penting, dan memaafkan juga tak kalah penting karena dibutuhkan sebuah hati yang besar dan bijak untuk mampu memberi maaf.

Dan gw merasa bahwa semua orang memiliki pandangan mereka sesuai dengan pengalaman yang mereka lalui, mendengarkan semua contoh cerita membuat gw bias untuk menentukan mana yang lebih melegakan hati, meminta maaf atau memaafkan orang lain.

Yang pasti, keduanya butuh keberanian mutlak dimana musuhnya adalah diri sendiri, dimana segala pengecualian dan pembenaran irasional bisa muncul tak terkendali.

Apapun hasil dari sebuah pertengkaran nantinya, memiliki kemampuan untuk menguasai diri dan memahami tentang seberapa dibutuhkannya kata ”maaf” itu sendiri merupakan jalan keluar yang baik. Berkaca dari cerita Trina dan beberapa kejadian, semuanya akan menjadi lebih ringan begitu meminta maaf atau memaafkan orang lain. Perkara keadaan akan kembali seperti sedia kala atau malah tidak terlupakan, tidak menjadi masalah, yang penting rasa dendam yang mengganggu tak lagi bersarang.

Meminta maaf membuat perasaan menjadi lega karena telah melepaskan beban moral dan memaafkan adalah senjata yang menghancurkan beban kebencian serta beban moral dari si peminta maaf secara bersamaan.

Mengutip kata Trina

meminta maaf dan memaafkan bukan kewajiban, tapi kebutuhan”



Selamat berakhir pekan.

:Rue:

Kamis, 28 Oktober 2010

cinta, komitmen, pilihan hidup, pernikahan

 Menikah, menikah rasanya menjadi target hidup semua orang, well, nggak semua tapi melihat kecenderungan pandangan dan kebudayaan di Indonesia, menurut gw, pernikahan lebih menjadi sebuah kewajiban. Kita juga gak lepas dari pandangan orang, baik keluarga besar, teman – teman, atau sekedar rasa malu jika menginjak usia cukup, dan belum menikah.

Masalahnya adalah, ya, gw juga ga bisa terlalu banyak berpendapat karena gw gak punya bukti kongkrit tentang ini, tapi rasanya pernikahan sekarang banyak dilakukan untuk keluarga atau alasan lain selain ”MAU”, karena tuntutan keluarga tuh biasanya jadi pemicu utama, kenalan gw menikah gara – gara mamanya mau gendong cucu sebelum si mama menjadi tua dan ga bisa menikmati menjaga cucu, ada juga temen gw yang menikah karena gak tahan terus–terusan dicibir orang karena usia. Dan akhirnya sekarang cerai, dan orang lebih bisa menerima duda daripada pria lajang di usia 30-an. Aneh.

Dalam waktu dekat, di bulan November, tiga orang yang gw kenal akan menikah. Well, yang satu udah pacaran lebih dari 10 tahun, yang dua lagi, gw kurang tau berapa lama pacarannya. 

Tentang yang 10 tahun pacaran, gw kurang mengerti kisahnya karena nggak ngikutin, nah gw pengen berbagi cerita tentang yang lainnya.

Kisah pertama tentang Vira yang akan menikah dengan orang yang punya masa depan yang tergambar dengan jelas dengan warna-warna yang meyakinkan, aman, dan menjanjikan, dan adalah seorang yang rasanya memiliki garansi sebagai suami ideal. Jadi walaupun dia menikah dengan orang yang dia (mungkin) gak yakin dia cintai, Vira yakin dengan masa depan kehidupan pernikahannya, sebuah pemikiran panjang tentang kehidupan nantinya, perkara kehidupan anak dan lainnya. 

Pernikahan untuk Vira menurut gw menjadi sebuah rancangan kehidupan dimana hal ini merupakan bukan romansa kehidupan, tapi benar-benar menjadi sebuah lembaga kecil yang nantinya akan mengurusi banyak hal, memikirkan keuangan perusahaan, sumber daya manusia, pendapatan dan lainnya.

Sementara di cerita lain, teman gw yang bernama Sunni, menikah dengan cinta dalam hidupnya, orang yang dia pilih dengan hati dan keinginan, seorang pangeran tampan dengan segala hal yang memenuhi kriteria yang ideal menurut Sunni. Sunni tampak begitu bahagia, membicarakan pernikahannya, gugup dengan pernikahannya, namun tak ada sedikit pun kekhawatiran tentang kehidupan berumah-tangga yang akan ia jalani nantinya. Yang sangat dikhawatirkan adalah, bagaimana ia akan terlihat saat resepsi nanti. Hihi. 

Beranjak dari dua kasus diatas, menurut gw akhirnya begitu banyak jenis pernikahan, atau begitu banyak motif dibalik pernikahan, dua cerita diatas aja menurut gw udah kontras untuk menjelaskan kisah ini.
Akhirnya, dengan berbekal rasa penasaran gw, gw bertanya sama beberapa orang, dan jawabannya begitu beragam, aneh – aneh sampai gw takjub. Walau ternyata jawaban laki – laki dan perempuan masing masing memiliki persamaan yang lucu.

1. Buat gw menikah adalah sebuah cita–cita, selain merupakan kewajiban agama, menikah menurut gw adalah saat dimana lo menutup sebuah buku dan memulai sebuah buku baru dan memulai semuanya, dengan seorang wanita yang lo cintai, lo agungkan dan menjadi satu-satunya perempuan yang cantik yang musti lo lihat – Raihan.


2. Pernikahan menurut gw adalah komitmen untuk hidup bersama dengan orang yang menyayangi dan menerima gw apa adanya, seorang lelaki yang bisa nyambung dan gw sreg sama dia. – Grace


3. Nikah itu komitmen, janji sehidup semati antara pria dan wanita, kalo secara agama, itu adalah sebuah karya penciptaan, dan buat gw menikah artinya keadaan dimana gw udah mapan dan siap untuk membagi seluruh hidup gw buat satu orang yang gw sayang dalam sakit, sehat, sanang atau sedih sampai maut yang misahin – Novan


4. Menurut gw, nikah itu adalah kebutuhan rohani dan jasmani, dan buat gw nikah itu berarti hidup bersama dengan orang yang bisa bikin gw nyaman dan bisa dipercaya. Ga ada yang ideal memang, karena ideal itu cuman refleksi dari pandangan umum masyarakat – Sarah 


5. Pada dasarnya, saya ingin menikah SEKALI seumur hidup untuk lebih BAHAGIA lahir batin dan punya ANAK secara legal. Tapi tentu saja tidak sesimpel itu untuk menuju kesana. Pernikahan itu KOMITMEN dan TANGGUNG JAWAB dua belah pihak yg pastinya saling mencintai secara matang dan dewasa. Karena menikah bukan cuma untuk hubungan seksual (walaupun itu penting) melainkan setelah menikah kita akan punya tanggung jawab bukan hanya pd diri sendiri tapi juga pada Tuhan, anak, keluarga, mertua, karier, lingkungan, dsb. Makanya harus siap (matang dan dewasa), belajar dan belajar sampai mati. Pasangan hidup (suami) saya adalah PARTNER kehidupan hingga kami meninggal. (Partner! Bukan majikan apalagi jongos). Sama2 saling mencintai secara dewasa, mendukung, membangun dan melengkapi dengan tujuan bahagia lahir batin. We grow and feel Blessings all the time together.. owh…lovely (amin). Tadinya kriteria suami saya cuma 2 : HINDU and Someone that can make myself say to him “I REALLY REALLY PROUD TO BE YOURS”. Tapi setelah saya berpacaran serius (untuk pertama kalinya) dengan seorang pria cemerlang yang memenuhi kriteria diatas, punya harapan dan persiapan ke jenjang pernikahan (krn apa lagi coba yg dicari), saya sudah menerima bahkan tidak bs melihat kekurangannya, tapi ternyata kami PUTUS juga. Kejadian itu membuat saya belajar bahwa 2 kriteria itu saja tidak cukup, sehingga saya sempurnakan menjadi : Have the same religion with me or we can TOLERANCE each other, Each of us feel COMFORTABLE and Someone that can make myself say to him “I REALLY REALLY PROUD TO BE YOURS”. That’s ideal… - Putu.


Kira-kira yang seperti itu jawaban orang-orang Jakarta yang gw tanyain tentang pandangan mereka mengenai pernikahan. Nah, sekarang pernikahan sendiri itu punya persepsi yang begitu beragam walau rasanya menurut gw, bagi perempuan, menikah adalah sebuah keadaan dimana mereka telah menentukan kapten untuk kapal mereka dalam mengarungi lautan buas kehidupan, dimana kapten ini adalah kapten pilihan dengan ribuan pertimbangan, jutaan pertanyaan, dan ratusan ribu pengulangan pertanyaan dalam meyakinkan diri untuk memilih kapten.

Sedangkan laki – laki memandang pernikahan sebagai sebuah medan gelap tanpa peta dimana yang mereka miliki hanyalah kepintaran, rasa nekat dan kekuatan dari seorang perempuan yang mereka pilih, bagi seorang lelaki, perempuan adalah pelengkap kehidupan dan penyempurna kekuatan, sedangkan perempuan menempatkan laki-laki sebagai kapten, seorang pengambil keputusan mutlak dan merupakan landasan penyempurna ribuan argumen dan pertimbangan yang dimiliki perempuan. 

Gw yakin akan ada banyak lagi pandangan-pandangan yang berbeda mengenai hal menikah. Namun yang pasti, apapun maksud dan motif dibalik sebuah pengambilan keputusan untuk menikah, hal itu merupakan sebuah keputusan dengan berbagai pemikiran, perhitungan risiko dan konsekuensi dari sebuah komitmen. Gw ga bisa bilang cinta sebagai hal mutlak karena, sejauh referensi gw kecuali temen gw Sunni, pernikahan terjadi seperti sebuah persekutuan dua lembaga untuk menjadi lembaga yang lebih baik. 

Untuk tulisan ini, gw minta maaf untuk materi yang kayaknya kusut dan gw memberikan sistematika penulisan yang berantakan, jujur, gw nggak bisa membuat sesuatu yang rapih mengenai pernikahan yang buat gw begitu complicated, jadi gw menuliskan sesuai dengan yang muncul di kepala dengan spontan.

Untuk tulisan ini, gw berterima kasih begitu berlimpah buat responden yang mau berbagi cerita, dan untuk teman-teman yang rela berjam-jam membahas ini dengan gw. Atas waktu yang begitu menyenangkan dan hangat, gw berterimakasih secara khusus kepada Ryan, Raihan, Wafa dan Reza. Lo semua keren!!!

::rue::

Kamis, 21 Oktober 2010

Yang abadi itu ketidak abadian






Gebetan, rasanya ringan banget denger kata itu, dan kayak di FTV-FTV, gebetan dan cara mendapatkan serta maintenence-nya kayaknya gampang, ringan dan penuh lika-liku sederhana yang jenaka. Dan di beberapa sudut kehidupan yang lain di bumi, ternyata gebet-menggebet jadi sebegitunya serius, punya kisah yang begitu rumit, dan terkadang, jadi dalem.
Seorang teman kemarin menginap di tempat gw, cerita panjang lebar tentang ini dan itu, oke, namanya Rendi. Rendi seperti semua orang pada umumnya, pernah jatuh cinta, pernah patah hati. Tapi yang ini, ceritanya nggak main-main.
Ceritanya terjadi waktu Rendi masih SMA. Ceritanya dia naksir 2 orang di waktu yang bersamaan, yang satunya cewek yang (menurut cerita Rendi) sempurna. Cantik, sopan, ramah, halus, pintar dan lain-lainnya. Yang satunya lagi, cowok, kakak kelas yang katanya nggak begitu ganteng, tapi menawan (begitu menurut Rendi).
Jadi hari-hari Rendi diisi sebagai penggemar rahasia dua orang ini, katanya setiap hari rasanya begitu menyenangkan. Dan disaat dia cerita, gw mikir mungkin juga, diluar urusan kelamin, jatuh cinta ya jatuh cinta, dan jatuh cinta sama satu orang aja nyenengin, apalagi dua, diwaktu yang sama. Dan menjadi penggemar rahasia itu menyenangkan, rasanya deg-degan tiap hari. Sedih, tapi rasanya enak juga.
Di tengah-tengah wacana, beberapa kali gw liat Rendi tersenyum miris, dan senyum miris dia bikin gw mikir, berarti kisah cinta ini salah satu atau dua-duanya nggak berhasil, jadinya gw memutuskan buat nanya.
Gw : ”So, akhirnya gimana? Lo jadian sama salah satunya? Atau malah akhirnya cobain dua-duanya?”
Rendi : ”Ah, enggak, boro-boro jadian, sempet bilang juga nggak, apalagi ke yang cewek.”
Gw : ”Loh kenapa? Gak sempet ketemu lagi?”
Rendi : ”Iya, dia meninggal leukimia.”
Eh? Meninggal? Belakangan rendi emang cerita kalau di akhir akhir kelas 3 si cewek udah sering nggak muncul dan belakangan kabarnya dia meninggal leukimia. Gw sih terperangah dengernya. Rasanya kayak.....kayak apa coba? Gw nyaris ga punya kata kata yang paling baik untuk ngungkapin apa perasaan gw denger cerita kalo gebetannya si Rendi meninggal, maksud gw, meninggal aja udah bukan urusan yang gampang, ini tambah lagi ada beban perasaan, ya kan?
Dan mungkin rasa penyesalannya yang bikin nggak bisa lupa, gw sih sempet nanya ke beberapa orang tentang masalah ini, dan semua kayaknya punya pandangan yang sama yaitu rasa menyesal nggak bilang, ada yang rada ekstrim pengen bunuh diri jadinya, beberapa bilang jadi sedikit menyalahkan Tuhan . Tapi beberapa jawaban manis muncul kayak berikut (gw kutip sesuai jawaban mereka) :
  1. Rasanya seperti penyesalan kenapa gw gak bilang. Dan waktu gak bisa diputar. Gw sedih bangt pastinya. Tapi gw tetep pengen dia tau, jadi gw dateng ke makamnya banget ngungkapin.” – Amel
  2. Naruh surat di kuburannya, berharap dia tau akhirnya.” – Griksa
  3. Gw sih pasti nyesel bgt, secara jadi secret admire aja udah tersiksa, apalagi ending-nya jadi begini.” – Andra
  4. Kalo buat gw, sedih sih. Tapi cinta kan gak selalu harus saling memiliki.” – Tyo
  5. Bunuh diri! Soalnya gw kalo dah sayang, sayang banget.” – Catherine
Dan balik lagi ke cerita Rendi yang belum selesai, untuk memotong aura sedih, gw nanya tentang si cowok yang dulu ditaksir Rendi, dan ceritanya nggak kalah bikin gw tertegun.
Nah, mungkin karena nggak mau menyesal untuk yang kedua kalinya atau karena gak mau kehilangan kesempatan, atau karena rasa sukanya sekarang terpusat pada si kakak kelas ini, lulus SMA Rendi memutuskan buat nyusul si kakak kelas ini ke Australia. Ironis? Menyedihkan? Pemberani? Pejuang? Entahlah, sementara Rendi melanjutkan cerita, gw bertanya tanya, tapi yang gw yakin pasti, orang ini luar biasa. Entahlah. Tapi orang kayak gini sih 1.000.000 banding 1.
Akhirnya Rendi di Australia, kuliah. Mengejar ilmu dan mengejar cinta. Gw sendiri nggak gitu inget detail cerita ini sampai pada akhirnya si kakak kelas ngajak si Rendi ketemuan buat makan siang atau semacamnya, atau Rendi yang ajak, entahlah. Pada kesimpulannya, mereka ketemuan.
Rendi gugup dan deg-degan memikirkan segala hal, dan mengharapkan semesta mendukung kesempurnaan yang dia persiapkan, dirinya, pakaiannya, cuacanya, restorannya dan semuanya. Dan dengan sial si kakak kelas dateng bawa perempuan. Mendadak sih gw udah curiga ini perempuan pasti pacar atau apa, dan ternyata Rendi nggak. Dia terlalu konsentrasi sama si kakak kelas yang udah bikin dia nggak konsen sekolah dan ke Australia buat ngejar ”kuliah”.
Rendi : ”Iya, dia dateng, gw seneng bgt. Dia bawa temennya, cewek, gw sih gpp toh gw ketemu dia kan, bukan cewek itu.”
Gw : ”Terus, terus?”
Rendi : ”Terus dikenalin deh gw sama cewek itu, katanya ”Hi Rendi, kenalin.. ini tunangan gw.””

Dan Rendi hanya tersenyum miris menatap gw dan mengangkat bahu.

Setelah dia pulang, gw mendapati diri gw berpikir tentang ini dan itu, terutama tentang perasaan gw kalau-kalau gw yang ada di posisi dia. Dan hal positif yang manis banget dateng darr seorang temen. Dia nulis gini ”mukin gw bakal stuck in memories, nulis unsent letter. But his/her image will never fall from grace abadi dan selalu indah.” dan gw rasa itu jadi bener banget gitu kalo gw pikir lagi, well, jadinya mereka-mereka kan nggak ninggalin cacat sama sekali di kehidupan Rendi.
Punya kenangan tak bercacat tentang seseorang dalam hati terkadang bikin cerita hidup jadi lebih manis, karena ada tokoh protagonis yang abadi.


:: rue ::

hai :)


Hi, gw Rue, gw tinggal di Jakarta, hidup seperti warga Jakarta pada umumnya, dan mengalami banyak hal seperti warga Jakarta umunya, intinya, gw umum.

Yang bikin Jakarta jadi ebraneka ragam adalah cerita-cerita dari berbagai sudut yang warna warninya bikin kehidupan jadi nggak membisankan, mulai dari politik, kehidupan rumah tangga, sampai percintaan.

Nah, masalah percintaan, ternyata yang dialamin sama orang – orang di Jakarta ternyata nggak sesederhana yang ditampilin di televisi atau nggak semengerikan itu. Gw inget tentang ftv – ftv yang ceritanya kelewat ringan tanpa konflik atau cinta fitri yang bikin cinta nggak bermaslah jadi masalah ber season - season.

Banyak cerita cinta yang gw denger, beda usia, beda kasus. Dan semuanya menurut gw punya banyak persamaan dan banyak perbedaan di waktu yang bersamaan. Dan gw menulis cerita itu di sini, sekalian uat referensi kalo kalo ada kasus menyedihkan yang mirip kisah, lo jadi lo nggak ngerasa sendiri, dan kalo kisah senengnya yang mirip kisah lo, anggeplah lo bagi bagi keberuntungan. Dan kalo lo gak suka cerita cinta, nggak usah baca, hehehehehe.

Dan gw memalsukan nama tokoh. Jadi yang tau ini cerita tentang dia ya cuman si orang yang bersangkutan. Tapi nama responden kalo gw nanya nanya sih nama asli.



Thanks udah mampir, selamat membaca



:: rue ::