Kamis, 21 Oktober 2010

Yang abadi itu ketidak abadian






Gebetan, rasanya ringan banget denger kata itu, dan kayak di FTV-FTV, gebetan dan cara mendapatkan serta maintenence-nya kayaknya gampang, ringan dan penuh lika-liku sederhana yang jenaka. Dan di beberapa sudut kehidupan yang lain di bumi, ternyata gebet-menggebet jadi sebegitunya serius, punya kisah yang begitu rumit, dan terkadang, jadi dalem.
Seorang teman kemarin menginap di tempat gw, cerita panjang lebar tentang ini dan itu, oke, namanya Rendi. Rendi seperti semua orang pada umumnya, pernah jatuh cinta, pernah patah hati. Tapi yang ini, ceritanya nggak main-main.
Ceritanya terjadi waktu Rendi masih SMA. Ceritanya dia naksir 2 orang di waktu yang bersamaan, yang satunya cewek yang (menurut cerita Rendi) sempurna. Cantik, sopan, ramah, halus, pintar dan lain-lainnya. Yang satunya lagi, cowok, kakak kelas yang katanya nggak begitu ganteng, tapi menawan (begitu menurut Rendi).
Jadi hari-hari Rendi diisi sebagai penggemar rahasia dua orang ini, katanya setiap hari rasanya begitu menyenangkan. Dan disaat dia cerita, gw mikir mungkin juga, diluar urusan kelamin, jatuh cinta ya jatuh cinta, dan jatuh cinta sama satu orang aja nyenengin, apalagi dua, diwaktu yang sama. Dan menjadi penggemar rahasia itu menyenangkan, rasanya deg-degan tiap hari. Sedih, tapi rasanya enak juga.
Di tengah-tengah wacana, beberapa kali gw liat Rendi tersenyum miris, dan senyum miris dia bikin gw mikir, berarti kisah cinta ini salah satu atau dua-duanya nggak berhasil, jadinya gw memutuskan buat nanya.
Gw : ”So, akhirnya gimana? Lo jadian sama salah satunya? Atau malah akhirnya cobain dua-duanya?”
Rendi : ”Ah, enggak, boro-boro jadian, sempet bilang juga nggak, apalagi ke yang cewek.”
Gw : ”Loh kenapa? Gak sempet ketemu lagi?”
Rendi : ”Iya, dia meninggal leukimia.”
Eh? Meninggal? Belakangan rendi emang cerita kalau di akhir akhir kelas 3 si cewek udah sering nggak muncul dan belakangan kabarnya dia meninggal leukimia. Gw sih terperangah dengernya. Rasanya kayak.....kayak apa coba? Gw nyaris ga punya kata kata yang paling baik untuk ngungkapin apa perasaan gw denger cerita kalo gebetannya si Rendi meninggal, maksud gw, meninggal aja udah bukan urusan yang gampang, ini tambah lagi ada beban perasaan, ya kan?
Dan mungkin rasa penyesalannya yang bikin nggak bisa lupa, gw sih sempet nanya ke beberapa orang tentang masalah ini, dan semua kayaknya punya pandangan yang sama yaitu rasa menyesal nggak bilang, ada yang rada ekstrim pengen bunuh diri jadinya, beberapa bilang jadi sedikit menyalahkan Tuhan . Tapi beberapa jawaban manis muncul kayak berikut (gw kutip sesuai jawaban mereka) :
  1. Rasanya seperti penyesalan kenapa gw gak bilang. Dan waktu gak bisa diputar. Gw sedih bangt pastinya. Tapi gw tetep pengen dia tau, jadi gw dateng ke makamnya banget ngungkapin.” – Amel
  2. Naruh surat di kuburannya, berharap dia tau akhirnya.” – Griksa
  3. Gw sih pasti nyesel bgt, secara jadi secret admire aja udah tersiksa, apalagi ending-nya jadi begini.” – Andra
  4. Kalo buat gw, sedih sih. Tapi cinta kan gak selalu harus saling memiliki.” – Tyo
  5. Bunuh diri! Soalnya gw kalo dah sayang, sayang banget.” – Catherine
Dan balik lagi ke cerita Rendi yang belum selesai, untuk memotong aura sedih, gw nanya tentang si cowok yang dulu ditaksir Rendi, dan ceritanya nggak kalah bikin gw tertegun.
Nah, mungkin karena nggak mau menyesal untuk yang kedua kalinya atau karena gak mau kehilangan kesempatan, atau karena rasa sukanya sekarang terpusat pada si kakak kelas ini, lulus SMA Rendi memutuskan buat nyusul si kakak kelas ini ke Australia. Ironis? Menyedihkan? Pemberani? Pejuang? Entahlah, sementara Rendi melanjutkan cerita, gw bertanya tanya, tapi yang gw yakin pasti, orang ini luar biasa. Entahlah. Tapi orang kayak gini sih 1.000.000 banding 1.
Akhirnya Rendi di Australia, kuliah. Mengejar ilmu dan mengejar cinta. Gw sendiri nggak gitu inget detail cerita ini sampai pada akhirnya si kakak kelas ngajak si Rendi ketemuan buat makan siang atau semacamnya, atau Rendi yang ajak, entahlah. Pada kesimpulannya, mereka ketemuan.
Rendi gugup dan deg-degan memikirkan segala hal, dan mengharapkan semesta mendukung kesempurnaan yang dia persiapkan, dirinya, pakaiannya, cuacanya, restorannya dan semuanya. Dan dengan sial si kakak kelas dateng bawa perempuan. Mendadak sih gw udah curiga ini perempuan pasti pacar atau apa, dan ternyata Rendi nggak. Dia terlalu konsentrasi sama si kakak kelas yang udah bikin dia nggak konsen sekolah dan ke Australia buat ngejar ”kuliah”.
Rendi : ”Iya, dia dateng, gw seneng bgt. Dia bawa temennya, cewek, gw sih gpp toh gw ketemu dia kan, bukan cewek itu.”
Gw : ”Terus, terus?”
Rendi : ”Terus dikenalin deh gw sama cewek itu, katanya ”Hi Rendi, kenalin.. ini tunangan gw.””

Dan Rendi hanya tersenyum miris menatap gw dan mengangkat bahu.

Setelah dia pulang, gw mendapati diri gw berpikir tentang ini dan itu, terutama tentang perasaan gw kalau-kalau gw yang ada di posisi dia. Dan hal positif yang manis banget dateng darr seorang temen. Dia nulis gini ”mukin gw bakal stuck in memories, nulis unsent letter. But his/her image will never fall from grace abadi dan selalu indah.” dan gw rasa itu jadi bener banget gitu kalo gw pikir lagi, well, jadinya mereka-mereka kan nggak ninggalin cacat sama sekali di kehidupan Rendi.
Punya kenangan tak bercacat tentang seseorang dalam hati terkadang bikin cerita hidup jadi lebih manis, karena ada tokoh protagonis yang abadi.


:: rue ::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar