Hi, pertama – tama gw mau kasih warning dulu kalau cerita yang kali ini rada panjang .
~enjoy
Perasaan, disaat semua perasaan positif berbalik menjadi gelap dan menyerang dengan tajam, terkadang rasanya kebencian adalah sikap yang paling pantas untuk memberikan reaksi terhadap serangan perasaan tersebut. Masalahnya adalah, apakah dengan membenci kemudian kepuasan dan kebahagian didapat? Atau akhirnya hanya menjadi topeng dari perasaan yang rapuh dan terluka? Dan mungkinkah memaafkan dengan ikhlas menjadi obat yang baik untuk menyembuhkan luka serangan perasaan? Atau, menyimpan kebencian adalah sebuah jawaban yang mutlak dan penobatan sebagai reaksi yang kuat? atau? atau? atau? atau? atau?
Perempuan kuat ini bernama Trina, kalau melihat dari pembawaannya, Trina merupakan seorang wanita menarik dengan selera humor yang asik. Tapi, ternyata Trina memiliki sebuah cerita yang membuat gw pengen bagi – bagi ceritanya ke semua orang, mungkin bisa membantu kalau ternyata ada orang diluar sana yang sedang berkemelut dengan masalah yang sama.
Trina seorang gadis usia dua puluhan yang menikah dengan pria pilihannya, seorang lelaki baik-baik dari keluarga yang baik. Mereka menikah dengan sederhana, sebuah pernikahan mungil yang hangat dengan orang – orang yang mereka sayangi. Setelah pesta pernikahan selesai, mulailah mereka mempertemukan kapal mereka dengan medan dinamis yang tak terprediksi, kehidupan berumah tangga.
Dengan sebuah doa agar keluarganya terhindar dari semua masalah, Trina yang polos menyerahkan semua hal kepada Tuhan, Sang Maha Pencoba. Di usianya yang begitu belia, dua puluhan, pukulan pertama datang menghantam Trina dengan gagah, suaminya, kapten perahu mereka yang belum sepenuhnya rampun, tertangkap berselingkuh... dengan adik Trina sendiri.
Jujur gw cuma bisa bilang ”maaf” waktu gw mendengar cerita itu, entah reaksi apa yang cocok untuk mewakilkan rasa kaget gw, mendadak gw kayak dihantam bongkahan es, sakit dan dingin.
Trina melanjutkan cerita, dengan goncangan sekuat itu, Trina yang gelap mata dengan segera lari keluar dari rumah dengan hati yang kacau dan rasa malu yang tak terkira, ia berkata bahwa ia bahkan tak sanggup melihat bayangan dirinya. Namun Trina berhasil dicegah dan melalui banyak perdebatan, akhirnya kasus itu termaafkan dan entah badai apa yang terjadi dalam hati, dipermukaan, mereka tampak melupakan kejadian ini.
Selang beberapa tahun, kehidupan Trina menjadi normal kembali, kasus perselingkuhan pertama menguap begitu saja, terbayang namun samar, lalu suaminya selingkuh lagi. Kali ini yang kedua, kali ini di rumah Trina, di istana dimana harusnya ia berpulang, ditempat segala rahasia berada, dan begitulah mudahnya ternoda oleh khilaf.
Kejadian ini terjadi begitu saja, begitu saja terjadi, begitu saja tertangkap, lagi-lagi sang suami bermain dengan bodoh. Ditengah – tengah cerita, Trina memotong narasi dengan sebuah kalimat pendek ”laki – laki, mau culas kok tolol”. Trina kontan marah mendapati suaminya lagi-lagi bermain badai. Namun Trina yang sekarang adalah wanita tangguh yang kuat. Trina yang murka hanya tersenyum sinis pada suaminya lalu kembali keruang tengah, tentunya sang suami mengejar.
Suami Trina mencoba menjelaskan bahwa kejadiannya tidak seperti yang dilihat oleh Trina (ya, alasan seperti ini emang pamungkas, basi, namun selalu digunakan, mendadak saya ingat quote Trina ) dan kejadian itu murni merupakan khilaf belaka. Dengan kontan Trina berbalik menjawab suaminya dengan kata – kata yang mujaraf untuk membunuh orang.
”gak usah kasih saya penjelasan, kamu itu sudah makan sampah, jadi mulut kamu bau bangkai”
Dan
”untuk orang setua kamu, selingkuh lagi itu bukan khilaf, tapi hobi”
Pertengkaran terjadi begitu sengit, Trina kemudian bilang ke gw kalau suaminya merupakan orang yang menghormati perempuan di beberapa sudut pandang. Jangankan memukul Trina, suaminya bahkan tak pernah membentak atau memaki perempuan. ”Ia memang penyayang wanita, lihat saja kelakuannya”.
Mereka kemudian berbaikan kembali, Trina bahkan tak mengerti mengapa ia mau kembali memaafkan suaminya. Diluar pertimbangan tentang pandangan publik dan reputasi serta perasaan anak, Trina tak mengerti kenapa maaf itu kembali datang, ia berkata mungkin itulah yang disebut keledai, jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali, dan menerimanya dengan terbuka, walau buat gw pribadi, itu sikap patriotis yang membanggakan. Kehidupan keluarga mereka kemudian kembali berjalan, entah dengan ribuan kecurigaan atau justru karena akhirnya sudah tak ada rasa saling perduli.
Kemudian beberapa tahun berselang, kejadian perselingkuhan terjadi lagi. Kali ini rasanya gw bahkan gak bisa napas waktu Trina cerita. Gw cuma bisa megang tangan Trina sambil membelalak terkejut. Oh, damn... ini yang namanya main badai ditengah badai. Gak kira – kira, gak pandang usia dan gak tau malu. Itu mungkin yang ingin disampaikan Trina ke gw diantara ratusan kalimat yang dia lontarkan, yang gw bahkan nggak konsen dengerinnya.
Kali ini Trina suah kehabisan maaf, merasa anak – anaknya sudah cukup dewasa untuk mengerti, ia kontan memberi tahu anak – anaknya disaat ia memergoki lagi suaminya berselingkuh. Dan kali ini, tak ada pintu maaf untuk suaminya. Dengan pasti dan niat kokoh, Trina mengusir suaminya dan lagi – lagi ia memberikan quote hebat yang membunuh
”Pergi kamu dari rumah saya! Saya nggak terima sampah dirumah ini, dan saya mesti buang taik di muka saya! Sekarang kamu pergi dan rasakan kesendirianmu di usia tua, kamu akan tua, sakit dan mati sendirian dan bahkan kamu gak akan liat anak – anak kamu datang ke kubur kamu dari neraka sana!”.
Dan rasanya kutukan tersebut sampai pada titik yang paling ditakuti oleh sang suami, ditinggalkan anak – anaknya, dalam hitungan detik setelah Trina mengutuknya, sang suami pingsan dan harus dirawat inap.
Lelaki itu mendapati dirinya tak dikunjungi sama sekali saat di rumah sakit, tak ada satupun keluarga yang datang, tidak istrinya, tidak anak – anaknya, dan tidak kerabatnya. Menurut Trina, suaminya tak akan berani menceritakan kasus ini kepada keluarganya karena alasan yang ”masuk diakal”.
Setelah diperbolehkan pulang, Suami Trina pulang ke rumahnya yang lain, sebuah rumah kosong yang akan dihadiahkan kepada anak bungsu mereka, sebuah bangunan berisikan harapan masa depan yang sekarang hampa. Sebelumnya lelaki ini mencoba pulang ke rumah keluarganya, namun yang didapatinya bukan sambutan simpati, namun tangis putri bungsunya yang mengantarkan kunci menyuruhnya tak perlu kembali.
Tidak diperlukan, gw merasa bahwa sebagai seorang ayah, tak diperlukan merupakan sebuah kegagalan paling besar dalam hidup. Tak ada lagi kata harga diri dalam diri seorang ayah yang mendapati dirinya tidak diperlukan oleh anaknya. Ironis, terjadi dan memilukan.
Setelah bermalam, esok harinya sang suami mencoba untuk kembali mengais maaf, yang tentunya kembali tidak berhasil. Anak sulungnya berpapasan dengannya di depan rumah, tanpa sepatah katapun, menatapnya dengan penuh malu dan marah dan hanya melempar sebuah kata, ”permisi”.
Sang suami histeris, ia menangis di pinggir jalan memohon sedikit maaf dari anaknya, ia sudah tidak memperdulikan rasa hormat anak kepada ayah, baginya sekarang, hanyalah maaf. Tulus ataupun tak tulus, ia ingin dimaafkan.
Gw kembali berpikir, apakah rasanya menjadi seorang ayah yang kehilangan pamornya dimata seorang anak, bagaimana ia mampu meminta maaf, bagaimana ia masih mampu menatap mata anaknya? Gw, disaat ceritanya menjadi seperti ini, mulai merasa bahwa sang suami berada di posisi yang memilukan, sebuah keadaan yang membuat gw ingin meminta Trina untuk memaafkan suaminya.
Namun tidak, dengan tegas dan penuh kesal, Trina memanggil anak sulungnya untuk kembali kerumah, untuk masuk dan membiarkan lelaki tua itu sendirian di jalan. Setelah si sulung masuk, Trina keluar, berjalan dengan anggun menuju suaminya dan kembali berkata.
”Kamu sudah bikin malu saya, jangan bikin malu anak saya juga, apa sih tujuan hidup kamu? Membuat semua orang malu? Dan kamu merasa menjadi pemenang dengan membodohi semua orang?”
Kalimat tadi lagi-lagi menjadi palu besar yang menghancurkan suami Trina hingga berkeping-keping, begitu hancurnya hingga ia perlu menghentikan napas sejenak untuk kembali mendapati kesadarannya. Ia hancur, dari cerita Trina, gw bisa rasain, kalau suaminya sekarang lebur, hancur bagai debu, begitu hancur sampai setiap serpihan-serpihannya tak lagi mengingat dimana letak awal mereka.
Kemudian hari-hari pasca pertengkaran menjadi padang pasir dalam kehidupan kedua belah pihak. Sang suami meminta maaf melalui segala cara dengan durasi yang nyaris tak terhenti, memberikan berbagai permohonan maaf yang memilukan. Ia bahkan disalah satu permintaan maafnya mengatakan seperti ini, (gw kutip dari smsnya yang diperlihatkan Trina ke gw)
”Anak – anakku, maafkan bapakmu ini, mungkin saya akan segera mati dan saya yakin kalian tak akan merasa kehilangan, namun saya mohon anak – anakku, tolong lihat kubur papa, itupun kalau kalian masih mengangggap saya papa kalian”
Gw bergetar membaca sms itu dan air mata gw turun begitu saja, ini benar - benar sudah diluar perkiraan gw untuk terjadi, ini seperti sebuah kisah yang begitu ekstrim, begitu memilukan dan pahit.
Trina kemudian berkata hidupnya menjadi tak tenang, ia sangat membenci suaminya, namun kebenciannya dan semua perlakuannya tak membuatnya mendapati sebuah rasa puas, rasa menang ataupun lega. Ia malah menjadi uring – uringan dan membenci segala hal, mudah tersinggung dan yang paling membuatnya galau adalah, ia akhirnya melibatkan anak – anaknya dalam masalah ini.
Namun akhirnya anak sulung Trina memberikan sebuah jalan keluar, ia meminta ibunya memaafkan sang ayah. Karena apapun yang terjadi, ia tak tega melihat ayahnya, dan ia pun tak tega melihat sang ibu yang semakin hari semakin terpuruk oleh keadaan.
Kemudian, Trina yang cerdas melakukan konsultasi pada pakar pernikahan dan beberapa psikolog yang semuanya membuat Trina mendapat jawaban bulat untuk memberi maaf pada suaminya, untuk memberikan maaf agar Trina terlepas dari belenggu kebencian yang merusak, dan menghentikan Trina dari kegiatan mengutuk suaminya, hidupnya dan dirinya sendiri.
Trina hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki rasa iba, empati dan kasih, tentunya tiga hal ini membuat Trina bulat kembali memaafkan suaminya. Trina tetap tak memberikan hati kepada sang suami, ia hanya memaafkannya, menenangkan samudra yang terhantam badai dan menjinakkan puting beliung yang memporak porandakan hidupnya.
Hatinya tetap tertutup rapat, ia memafkan suaminya untuk menjadi pemenang, untuk membuktikan pada suaminya, anak – anaknya dan terlebih pada dirinya secara pribadi bahwa ia adalah orang yang mampu menguasai dirinya sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Sekarang Trina menemukan sebuah kehidupan yang lebih bijak, dimana ia merasa berhasil menguasai alam semesta setelah berhasil menguasai dirinya sendiri. Ia memiliki tidur yang nyenyak, anak – anak yang membanggakan, suami yang penurut, serta rumah tangga yang terselamatkan. Dan dengan tersenyum bangga Trina hanya berkata bahwa yang membuat semuanya selesai adalah keberanian untuk memaafkan.
Gw pulang dengan hati yang plong, gw belum pernah sesegar ini setelah mendengar cerita tentang prahara kehidupan rumah tangga. Dan dikepala gw terbesit pertanyaan-pertanyaan seputar kekuatan memaafkan dan menanyakannya pada beberapa orang,
Teman gw Dhea, merasa bahwa meminta maaf merupakan hal yang lebih sulit, mengalahkan gengsi untuk meminta maaf membutuhkan keberanian yang tidak main-main, merupakan sebuah kemenangan bila mampu meminta maaf dengan tulus dan lawan semua pembrontakan hati kecil yang terkadang membuat pembenaran-pembenaran irasional.
Aldo merasa memaafkan merupakan sebuah kemenangan, karena dengan memaafkan orang lain, artinya seorang individu berhasil menempatkan diri mereka pada sebuah peringkat yang lebih tinggi, yaitu berhasil menjadi orang yang lebih bijak dan lebih bermartabat, dan memaafkan bagi Aldo bukan berarti harus melalui adanya permohonan maaf, memaafkan adalah sebuah sikap dimana seseorang dengan sadar membuang dendam atas sebuah keadaan yang buruk.
Seorang yang gw temui secara acak di sebuah restoran bernama Brian berkata bahwa meminta maaf adalah hal yang terpenting dalam menyelesaikan sebuah perkara, karena hidup dalam penyesalan dan rasa janggal dari maaf yang belum tersampaikan membuat tidur menjadi tak tenang.
Segala hal menjadi begitu eratic, tak terfokus, berantakan, apalagi hal tersebut menyangkut seorang yang penting, dan memaafkan juga tak kalah penting karena dibutuhkan sebuah hati yang besar dan bijak untuk mampu memberi maaf.
Dan gw merasa bahwa semua orang memiliki pandangan mereka sesuai dengan pengalaman yang mereka lalui, mendengarkan semua contoh cerita membuat gw bias untuk menentukan mana yang lebih melegakan hati, meminta maaf atau memaafkan orang lain.
Yang pasti, keduanya butuh keberanian mutlak dimana musuhnya adalah diri sendiri, dimana segala pengecualian dan pembenaran irasional bisa muncul tak terkendali.
Apapun hasil dari sebuah pertengkaran nantinya, memiliki kemampuan untuk menguasai diri dan memahami tentang seberapa dibutuhkannya kata ”maaf” itu sendiri merupakan jalan keluar yang baik. Berkaca dari cerita Trina dan beberapa kejadian, semuanya akan menjadi lebih ringan begitu meminta maaf atau memaafkan orang lain. Perkara keadaan akan kembali seperti sedia kala atau malah tidak terlupakan, tidak menjadi masalah, yang penting rasa dendam yang mengganggu tak lagi bersarang.
Meminta maaf membuat perasaan menjadi lega karena telah melepaskan beban moral dan memaafkan adalah senjata yang menghancurkan beban kebencian serta beban moral dari si peminta maaf secara bersamaan.
Mengutip kata Trina
”meminta maaf dan memaafkan bukan kewajiban, tapi kebutuhan”
Selamat berakhir pekan.
:Rue:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar